Jumat, 26 Maret 2010

lanjutannya sang kondactur.............................................. tamat.............................

Glegarrrrr… seperti disambar petir di siang bolong, seharusnya aku tak kaget, karena sang pemuda adalah salah satu mahasiswa STT (Sekolah Tinggi Theologia), seharusnya aku tak kaget apabila sang pemuda hanya menjadi guru agama kristen, tapi yang membuat aku kaget adalah sang pemuda yang “sempat” aku kagumi ini adalah calon Pendeta, sekali lagi saudara-saudara P.E.N.D.E.T.A !!!, hal yang sungguh asing bagiku, sang pemuda yang tampan, manis senyumnya, pembawaan yang kalem, yang gayanya cool, tak disangka mempunyai prinsip hidup yang menurutku sangat tidak begitu sinkron dengan penampilan fisiknya, menurutku pasti sangat berat mengambil keputusan menjadi seorang Pendeta, apalagi anak seumuran dia, waktu lulus sekolah menengah atas pasti punya cita-cita yang mungkin Pendeta akan menjadi pilihan yang kesekian dalam mengarungi dunia pendidikan, namun satu hal yang dapat aku pelajari dari sang pemuda ini adalah, keteguhan hatinya dalam meyakini ajaran agamanya, aku yakin ia mempunyai segudang alasan ketika memilih jurusan yang ia ambil, sangat mengagumkan, opppss, kata-kata kagum muncul lagi dipermukaan, waduuwww kapan bisa melenyapkan noda-noda nakal ini Ya Robbi, jangan bosan-bosan Ya Robb mendengar keluh kesahku
Setelah berdialog cukup lama dengan batinku, Sasya sadar bahwa aku sedang melamun,
“Nes, Nes, Anneshaaa… istighfar non… ya elah jangan sampe kepikiran sebegitunya dehhh, lebai lu…” protes temanku
“eehh, apa??? Jawabku sekenanya, wah ketahuan kecewa gak sih. Hahahahah
“tuhhh kan, udah deh gak usah terlalu dipikirkan, kitakan hanya sekedar mengagumi, apa salahnya mengagumi, gak ada undang-undang yang melarang kan, lagian itu fitrah udah dari sononya, lagian kita gak minta jadi pacar atau istrinya kan???”lanjutnya
Bener juga nih bocah, wahh kebetulan sekali nih pikirannya bisa jalan dengan baik,
Apa salahnya hanya sekedar mengagumi, kan wajar aja tuh, hehehehe dasar wanita, mudah diracuni teman, wah wah kapan hati ini bisa melenyapkan kekaguman yang tak halal ini Ya Alloh, bantu hamba…


♫♫♫





Sesuai dengan jadwal perlombaan berikutnya, aku datang real untuk menyaksikan lomba-lomba itu, kali ini berusaha fokus pada penampilan-penampilan peserta lomba, dengan semangat para peserta lomba menampilkan bakat mereka dalam berolah vokal, kebetulan teman sekelasku yang bernama Ricko mengikuti ajang olah vokal ini, jadi tak sia-sia datang karena spontan memberi semangat dan dukungan kepada si Ricko, nah ini dia ni yang buat bangga lagi, konon Ricko sudah mempunyai segudang prestasi dalam bidang nyanyi, hhmm pantesan aja suaranya bagus, eeiitttsss wajar aja, masuk grup inti paduan suara gereja sihhh (gubrakss, tapi suaranya masih kalah dengan tim nasyid edcoustic kesukaanku, atau nasyid haroki yang membuatku semangat di pagi hari, I Luph my Nasyid )

Anak sastra emang harus bangga dan wajib punya bakat yang harus dikembangin, contohnya aku suka dengan bidang tulis menulis, entah itu puisi, cerpen atau cerbung, kalau novelette atau novel, hhmm pengen sih tapi nanti aja, hehehehe….


Dasar si Ricko karena suaranya yang indah semua orang serentak berdiri dan memberikan aplous di akhir penampilannya, semoga jadi juara pertama, kan yang aku jadi kecipratan seneng and bangga tentunya…


Setelah memberikan penampilan terbaiknya Ricko datang duduk dan bergabung dengan teman-teman sekelas, aku heran melihat tatapan anehnya kepadaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut dan bertanya
“Kenapa sih, liatinnya gitu banget?”
“ada sesuatu yang mau aku beritahu” jawabnya
“soal apa nih? Aku gak suka di buat penasaran Ko”pintaku dengan sedikit bersuara tinggi
“ada dehhh, nanti saja ceritanya yah, kita nonton aja dulu, lagian gak enak ngomong disini, banyak telinga-telinga gak sopan!!!” jawabnya sembari tersenyum
Waduh, ada apaan nihh perasaanku jadi gak enak, ku paksa dia lagi untuk menjawab
“Ko, soal apa sih, penting gak?” tanyaku lagi
“Annesha sejak kapan kamu jadi orang yang gak sabaran!!!” jawabannya membuatku tersentak, kok dia yang marah, dasar aneh… dengan wajah kesal, aku melanjutkan menyaksikan perlombaan, badmood deh, jadi gak konsen nontonnya, mungkin Ricko menyadari aura wajahku yang tak enak dilihat, dia pun bertanya padaku
“marah kamu Nes???, maaf bukan maksudku, tapi aku hanya gak mau ada isu-isu kemarin lagi Nes” penjelasannya membuatku bingung
“eehhh gak marak kok, maksud kamu apa dengan isu-isu kemarin? Isu-isu apa?” tanyaku penuh selidik
“makanya Rha jadi orang sabaran, nanti kita bicarakan” jawabnya lagi
“tapi soal apa Ko?” tanyaku lagi
“soal pemuda STT!!!” jawabnya lagi
Gubrakkksss…. Tak ku lanjutkan lagi pertanyaanku, ada apa lagi ni, kenapa harus pemuda STT itu lagi?, padahal aku sudah bersusah payah tak menghiraukan apapun tentang dia, Ya Robbi ujian hati dari MU begitu berat ku rasa, semoga dapat terselesaikan, aku capek menata hatiku, aku lelah menghadapi futurku, kenapa masalah hati lebih berat ku lalui Ya Robb, tak ku sadari air mataku jatuh, Sasya yang duduk disampingku mungkin bingung menyadari ketidakwajaranku di tempat umum seperti ini, ia pun bertanya
“Nes, kamu sakit ya?” tanyanya
“eehh, gak kok, emangnya kenapa?, kelihatan pucat ya?” aku balik bertanya dengan ekspresi salah tingkah
“gak juga sih, tap kamu pake nangis segala, ada apaan sih?, cerita dong” tanyanya lagi, membuatku sendiri kaget, nangis??? Ya ampun ekspresi penyesalan begitu dahsyat sampai-sampai di tempat umum seperti ini pun dapat berurai air mata…
Dengan sedikit perasaan malu aku menjawab pertanyaan Sasya
“gak kenapa-kenapa kok Sya, hanya ada sedikit perih disini!” kutunjukkan hatiku, dan memberikan senyum buat Sasya agar dia tidak begitu terlalu khawatir
“ada apaan sih Nes?” wajahnya berubah menjadi sedih, lho ! ni anak kok malah jadi aneh
“gak ada apa-apa, beneran deh!, udahan ahh, kita nonton aja” jawabku penuh keyakinan agar dia tidak bertanya lagi
Setelah acara perlombaan pada hari itu berakhir, dengan tatapan penuh tanya aku berusaha melepas pandanganku yang kutujukan tepat ke wajah Ricko, dengan senyum yang mencurigakan dia mulai menghampiriku
“kamu penasarankan Nes?” Ricko mulai menggodaku dengan tingkah jenakanya
“biasa aja, tapi tolong deh jelasin dulu, sebenarnya ada apa?” dengan nada sedikit khawatir aku mulai menyidangnya
“jangan gelisah gitu Nes, biasa aja” jawab Ricko sedikit sewot
“makanya Ko, cepetan, kamu itu mau ngomong apa???” tanyaku dengan nada yang tak kalah sewotnya
“hehehehe, maaf deh maaf, hhmm Nes, masih inget pemuda STT gak???” tanya Ricko dengan hati-hati, “aku kemarin sempat dengar isu mengenai kamu dan tentang dia, aku sedikit bingung sih, aku hanya mau bilang dia itu teman aku”, dengan spontan aku menatap Ricko setengah tak percaya, “boleh aku tahu Nes kamu ada hubungan apa dengan dia???, bukan apa-apa sih Nes, maaf sebelumnya, dia itu anak Theologia, calon Pendeta, kalian beda agama Nes!!!, aku hanya mengingatkan kamu saja, sebagai teman aku perduli, gak lebih” jelas Ricko panjang lebar
Dengan nafas yang tak teratur, aku berusaha mengatur kata-kata yang kan aku keluarkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Ricko, dengan emosi yang naik turun alias tak stabil. Aku mulai menjawab
“Ko, asal kamu tahu saja, aku dan teman kamu itu gak ada hubungan apa-apa, kenalpun gak, apalagi lebih dari sekedar kenal???, aku hanya kagum, hanya kagum Ko, gak lebih, aku sadar aku ini adalah wanita muslimah yang harus menjaga izzah (harga diri) ku sebagai wanita islam, tapi dalam agamaku kagum kepada makhluk ciptaan Tuhan itu hal yang wajar, asal tidak berlebihan mengaguminya, karena menurut agamaku, berlebih-lebihan itu adalah temannya syetan, dan aku tak mau menjadi temannya setan, camkan itu baik-baik, hilangkan perasaan burukmu padaku, jangan percaya omongan orang sebelum faktanya terungkap, sebelum kamu mendapat informasi dari orang-orang yang bersangkutan, camkan itu baik-baik Ko” jawabanku yang panjang lebar dengan sedikit nada tinggi membuat Ricko tertunduk diam, karena melihat ekspresinya dengan segera aku meminta maaf dan pergi meniggalkannya, aaahhh kenapa mesti dia lagi, sang pemuda STT, huuufftt bete…bete…bete…

♪♪♪


Kekecewaan pada teman sekelasku membuat hubungan pertemanan kami menjadi renggang, hanya ada sapaan saja tanpa ada komunikasi lebih lanjut, rasanya sedikit aneh, namun sudahlah semua ini akan stabil, kembali seperti semula dengan berjalannya waktu.



Hari ini adalah hari dimana aku akan bertanding bersama teman-temanku yang lainnya, dari berbagai macam fakultas yang ada di Universitas tercintaku, lomba membaca puisi karangan para penulis-penulis terkenal, selain itu ada lomba paduan suara, oh my god, hari ini aku akan bertemu dengan sang pemuda itu lagi, kalau aku tak salah dari kampusnya mengikuti perlombaan paduan suara, ajang bergengsi yang selalu meriah dengan tampilan-tampilan yang luar biasa dari masing-masing grup.

Setelah bersiap-siap dibelakang panggung untuk tampil, tanpa kusadari, sedari tadi sang pemuda menatapku, entahlah apa yang dia lihat, panjang kerudungku kah?, atau begitu lebarnya gamis yang aku pakai, terserah!!! Yang penting aku nyaman, hehehe muslimah gitu lhoh…, entahlah dengan keberanian apa sang pemuda itu lewat didepanku dan menyapaku, saudara-saudara sang pemuda menyapaku (lebai mode : on) , dengan senyuman ku membalas sapaannya, woaaalaaahhh tak bisa konsen deh…

Ku kumpulkan lagi semangat-semangat yang melebur dan lari entah kemana, karena sapaan full smile dari seseorang yang sempat ku kagumi, oohh no! mulai ku kagumi lagi pesonanya, Ya Alloh kuatkan hatiku agar tak rapuh sebelum perlombaan ku di mulai, ini adalah hari ku, dan aku harus menampilkan yang terbaik, jangan terpengaruh dengan senyuman maut “pengacau” itu Nes, ayo semangat, yakin dan percaya kamu dapat menampilkan yang terbaik… SEMANGAT !!!




Nomor urut pesertaku dipanggil, dengan percaya diri aku maju, menatap sekelilingku, dan aku melihat teman-temanku yang duduk bersama ada Sasya disana dan Ricko pun ada, hhmm seperti mendapat kekuatan baru untuk bisa menyelesaikan puisi ini dengan lancar, dengan penuh penghayatan ku baca puisi itu, bait demi bait, baris demi baris, dengan penuh khidmat ku selesaikan dengan sempurna, ooohhh leganya, tak lupa ku lemparkan senyum termanisku untuk para Hadirin yang menonton penampilanku dan memberikan aplous yang begitu riuh ku dengar, juara nomor kesekian bagiku, yang penting hasrat senimanku dapat terpenuhi, kebahagiaan yang amat sangat terasa, selesailah tugas hari ini tinggal menonton peserta yang lain saja.


Sesaat setelah duduk bersama teman-temanku yang lainnya, aku merasa ada sesuatu yang aneh, aku merasa dari tadi ada yang memperhatikanku, tapi entahlah, mungkin perasaanku saja, tanpa ada komando Ricko berkata
“Nes, diliatin terus tuh, kok malah dicuekkin sih”
“maksud kamu apaan Ko?” tanyaku rada bingung
“si Edward liatin kamu dari tadi, katanya tadi dia nyapa kamu di backstage” lanjutnya
“Edward???”
“iya Edward, sang pemuda STT!!!”
Ohh jadi namanya Edward, aku hanya membalas pernyataan Ricko dengan senyum, ku cari si Edward, ketika mata kami saling bertemu aku hanya mampu tersenyum lalu menundukkan pandanganku, Ya Robbi tak bosan-bosan ku meminta perlindungan hatiku ini pada MU, sang Maha Penggenggam Hati, kuatkan hamba MU yang lemah dan tak berdaya ini, jagalah hati hamba dari sesuatu yang melebihi kekagumanku pada MU, hamba hanyalah makhluk dhoif, astaghfirullohaladzim, astaghfirullohaladzim (tak henti-hentinya aku bermunajat dan beristighfar dalam hati, biarlah Alloh yang menilai arti dari rasa yang ku rasakan)



Kekagumanku pada Edward semakin bertambah saja ketika dia dan grup paduan suaranya performance, sungguh diluar dugaanku Edward yang memakai setelan jas hitam dengan baju dalaman senada dengan jasnya bermotif garis-garis begitu serasi dengan alisnya yang hitam tebal dan senyumnya yang manis mampu menyihir penghuni tempat lomba berlangsung, Edward menjadi sang kondactur grupnya, dengan lihai dia memandu teman-temannya membawakan lagu Nasional Indonesia Jaya, dengan penuh semangat, dengan ekspresi yang mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, Ya Alloh begitu hebatnya Engkau menciptakan makhluk bernama manusia ini.

Setelah grup paduan suara Edward menyuguhkan penampilan terbaik dari mereka, akupun bergegas pulang, dengan hati yang tak karu-karuan diselimuti rasa senang, sedih, kecewa, entahlah, hanya Alloh yang tahu apa yang sedang terjadi denganku, sesampainya aku dirumah ku bergegas mengambil wudhu, ku bersimpuh pada Sang Maha Pemilik hatiku, sesungguhnya aku merasa hatiku ternodai hal-hal yang tidak semestinya aku rasakan, namun aku tahu bahwa rasa ini datang dari-Nya, DIA sedang mengujiku, sampai dimana rasa kagumku pada-Nya, apakah aku lebih kagum pada makhluknya? atau aku lebih kagum pada-Nya. Saat itu aku merasa DIA begitu dekat denganku mencurahkan kasih sayang-Nya, entahlah saat itu aku menagis di atas sajadahku, aku sendiri bingung, ekspresi apakah yang aku keluarkan, penyesalankah? atau karena aku merasa berat mengaguminya, bukankah itu hal yang wajar? Aku tahu aku dan sang kondactur “berbeda”, aku adalah seorang wanita muslim dengah jilbab yang menutup sekujur tubuhku sedangkan sang kondactur adalah calon Pendeta, sungguh ironis ku rasa, tapi aku tahu Alloh punya rencana yang lebih indah dibalik rasa yang ia titipkan padaku ini

♫♫♫

Hari ini ku mantapkan hatiku,harus ku bangun dinding hijabku yang perlahan-lahan runtuh karena sang kondactur, hehehe hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengannya, karena hari ini adalah hari dimana para pemenang mengambil hadiah, semalam setelah aku pulang aku di sms Sasya katanya sang kondaktur dan grupnya mendapat juara pertama pada lomba paduan suara, bukan berita yang mengagetkan untukku karena pada tahun lalu aku mendapat kabar bahwa dari kampus mereka jugalah yang mendapatkan juara pertama, hhuuufftt lelah mengaguminya

Sesampainya aku ditempat perlombaan Ricko datang kearahku dengan senyumnya, aku mengernyitkan dahiku, bingung dan heran, dengan santai ia menyapaku
“Nes semalam pulangnya kok cepat amat sih?”
“oohh, emangnya kenapa?”
“pake nanya emang kenapa, ada yang nyariin kamu”
“siapa Ko?”
“tuh yang sedang menatap ke arah kita”
Dengan penasaran aku mengikuti arah telunjuk Ricko, ia menunjuk seseorang yang memang sedang menatap kearah aku dan Ricko, Uppsss Astaghfirullohaladzim, mata kami beradu, hatiku mulai panas, aduh kenapa sang kondactur menatap dengan tajam seperti itu, dengan segera kupalingkan wajahku
“maksud kamu Ko?, sang kondactur itu?, aku gak ngerti, kenapa dia mencariku?” tanyaku sedikit penasaran
“gak tahu ya Nes, yang aku dengar dari teman-temannya ia penasaran aja sama kamu” jawab Ricko santai tanpa beban
Ya ampun apa aku gak salah dengar, apa gak kebalik, sang kondactur???
Aku yang mengagumimu, kok malah kamu yang penasaran mengenai aku (sedikit tak percaya tapi happy )
Dengan sedikit mengangkat kepalaku, ku lemparkan senyumku untuknya.

Setelah acara penyerahan hadiah dengan begitu meriahnya sang kondactur bersama grupnya menampilkan performance terbaik mereka lagi, aku hanya bisa tersenyum dan memberikan aplous untuk menampilan mereka, kagum lagi-lagi kata itu harus aku lontarkan pada sang kondactur, mereka berfoto-foto dengan piala mereka didepan gedung perlombaan, aku hanya tersenyum melihat tingkah ekspresi bahagia mereka, dengan langkah gontai aku membatin, inilah saat-saat terakhirku bertemu dengannya entahlah mungkin tak akan bertemu lagi, sang kondactur sungguh aku benar-benar mengagumimu, ketika aku sedang asyik membatin dengan hatiku, aku mendengar ada seseorang memanggilku dari arah belakang, ketika ku berbalik Ya Alloh ku dapati sang kondactur sedang tersenyum ke arahku dan bertanya
“Annesha kan?”
“iya” jawabku full senyuman
“aku Edward” sambil memberikan tangannya mengajakku bersalaman
Dengan spontan aku mengatupkan kedua tanganku ke dada sambil tersenyum berharap ia mau mengerti dalam agamaku dia bukan mahramku dan haram hukumnya kami untuk saling bersentuhan, diapun segera meminta maaf padaku dan ikut mengatupkan tangannya ke dada mengikutiku
“aku tahu kamu mengagumiku” katanya
Gubrakss, malu-maluin banget, gak tahu deh wajahku saat itu, mungkin persis kepiting rebus, saking malunya (salah tingkah mode : on), dan aku hanya mampu menjawab dengan senyuman, tak dapat berkata-kata lagi
“aku juga mengagumimu Nes, dari awal kita bertemu, aku kagum dengan pakaian yang kau kenakan, menutup seluruh tubuhmu, aku hargai ajaran agamamu dengan mewajibkan engkau berbusana seperti ini” dengan senyumnya ia menjelaskan tentang kekagumannya padaku, akupun tersipu malu
“aku menghargai kekagumanmu padaku Nes, tidak mungkin aku menolak apabila ada yang kagum padaku kan? Itu hal yang lumrah, sudah biasa terjadi” dengan senyumnya ia melanjutkan penjelasannya dan aku hanya mampu tersenyum
“maukah kau berteman denganku wahai sang pengagum Annesha Al-Islami???” dengan sedikit mendramatisir dan masih dengan full smile sang kondactur menawarkan pertemanan diantara kami, dengan senyumpun aku memberanikan diri menatap wajahnya dan menjawab
“ya, aku mau berteman denganmu wahai sang kondactur” kamipun lalu tertawa bersama-sama, tak ku sangka disana yang menyaksikan ikrarnya pertemanan kami bukan hanya teman-temanku tapi teman-teman sang kondacturpun ada disana, kami saling memberikan senyum pada teman-teman kami, Ya Alloh hatiku menjadi sangat lega, kekaguman ini berakhir dengan jalinan pertemanan diantara kami, inikah janji-Nya buah dari usahaku membersihkan hatiku dari bayang-bayang sang kondactur, terimakasih Ya Alloh Engkau mengakhiri pergulatan batinku dengan indah dan bijaksana……

♥ T.A.M.A.T ♥



semoga menjadi inspirasi buat kita semua....
slm ukhuwah
thyrabitha al-islami....

0 komentar:

Posting Komentar

  ©AKU DAN KENANGAN - Todos os direitos reservados.

Template by Dicas Blogger | Topo