Cinta Tanpa Asa
Rabu kelabu membuka semua tabir kehidupan nyata, membangunkanku dari tidur panjang tanpa menutup mata, menghempaskan semua lelah di jiwa yang merapuhkan segalanya. Tersadar dari mimpi dan angan yang telah lama ku susun dan ku bangun dengan asa. Tetes air mata mengiringi beranjaknya sang mentari menyinari bumi, benarkah semua ini ?? atau hanya mimpi, berkali-kali ku coba yakinkan diri, tapi ini memang kenyataan, bukan mimpi, bukan halusinasi dan bukan khayalan. Sebuah kenyataan pahit yang mau tak mau harus ku lalui dengan lapang dada, meski sesak terasa menyumbat kerongkonganku.
Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta, dan aku juga bukan orang yang pandai merayu dengan kata-kata puitis, namun darimu aku bisa merasakan cinta, cinta yang begitu dalam. Karenanya hari demi hari ku coba membangun sebuah istana meskipun tanpa hiasan, dan berharap suatu hari dirimu akan datang sebagai seorang bidadari yang akan menghiasi istana yang kubangun dengan rasa cinta dan ketulusan. Penantian yang selama ini kurasa, bukan ku tak serius tapi aku hanya ingin melihat kesungguhan cinta ini, aku takut ini bukan cinta, aku takut ini hanya berdasarkan nafsu belaka. Dua tahun lima bulan telah berlalu saat pertama kali ku berikan sebuah nama khusus untukmu, yang kini semua orang memanggilmu dengan nama itu. Aku bahagia karena ada sebuah kenangan yang akan terus melekat pada dirimu entah sampai kapan.
Sementara ku menunggu saat yang tepat untukku luahkan semuanya, aku tersentak mendengar kau telah berdua dengan sahabatku, mungkinkan aku tertidur hingga tak tahu apa yang telah terjadi. Kini yang tinggal hanya hampa belaka, penantian yang sia-sia. Istanaku diterjang badai hingga hancur porak poranda tanpa menyisakan kenangan indah didalamnya yang ada hanya puing-puing kepedihan.
Mengapa kau memberikan harapan semu untukku, mengapa kau tampakkan sebaris kata cinta di wajahmu, yang semua itu akhirnya menghempaskanku ke jurang yang teramat dalam. Salahkah aku, salahkah aku yang terlalu lama menunggu waktu. Oh Tuhan andai waktu bisa terulang kembali takkan ku sia-siakan semua itu yang tampak nyata dihadapanku. Namun waktu tetaplah waktu yang akan terus berjalan dan takkan pernah terulang kembali.
Meskipun kau tak bisa menjadi milikku namun hati dan jiwa ini tak mampu berpaling dan tak mampu berdusta bahwa aku sangat menyayangimu untuk selamanya, rasa cinta ini terlanjur mendarah daging dalam jiwaku hingga tak ada waktu lagi untuk berpaling dari sisimu, namun biarlah semua ini ku pendam dalam-dalam di lubuk hatiku. Ku simpan dan kan terus ku jaga hingga ku tak mampu lagi menatap sang mentari. Terima kasih cinta yang telah ijinkan aku memiliki cinta untukmu meski aku tak dapat mendekapmu. Namun satu janjiku untuk selamanya aku akan selalu menyayangi dirimu.
dalam sebuah catatan

0 komentar:
Posting Komentar